Jurnal MPMBS

TUGAS AKHIR PROFESI KEPENDIDIKAN  II

“REKONTRUKSI SMK PANCASILA 3 BATURETNO

MENJADI SEKOLAH MPMBS PENUH BERTARAF INTERNASIONAL

SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN MUTU DAN DAYA SAING

SECARA NASIONAL DAN GLOBAL”

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Profesi Kependidikan  2

Dosen Pengampu Noorhadi Tohir

Disusun oleh :

SUSANTO

K337047

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA

FAKULTAS KEGURURAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

2009

KATA PENGANTAR

Segala puji syukur tercurah ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan  nikmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Ilmiah tentang pengembangan sekolah dengan baik dan lancar. Karya Ilmiah yang berjudul “Rekontruksi SMK Pancasila 3 Baturetno Menjadi Sekolah MPMBS (manajemen pendidikan Peningkatan mutu berbasis sekolah) Penuh Bertaraf Internasional Sebagai Upaya Peningkatan Mutu, Dan Peningkatan Daya Saing Secara Nasional Dan Global”. ini merupakan tugas akhir yang disusun sebagai syarat untuk memenuhi tugas mata kuliah Profesi Kependidikan 2.

. Kajian dalam Karya Ilmiah ini  merupakan hasil pemikiran penulis berdasarkan data awal yang diperoleh dari sekolah yang pernah di observasi yaitu data dari SMK Pancasila 3 Baturetno. Dari sana kemudian penulis mencoba untuk melakukan pengembangan sekolah (tingkat menegah) berdasarkan Manajemen Peningkatan Mutu Pendidikan Berbasis Sekolah (MPMPBS) dan referensi lain yang relevan dan mendukung dari jurnal-jurnal dan buku-buku.

Dalam kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan sumbangan, termasuk berbagai kemudahan, sehingga selesailah penulisan  Karya Ilmiah ini. Harapanya karya ilmiah ini menjadi suatu pertimbangan sekolah dapat menerapkannya, sehingga dapat meningkatkan mutu pedidikan di sekolah tersebut khususnya dan pendidikan di Indonesia pada umumnya.

Tiada gading yang tak retak, Penulis menyadari bahwa  Karya Ilmiah ini tidaklah sempurna pasti ada kekurangan didalamnya. Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun akan diterima dengan tangan terbuka demi lebih baiknya penyusunan Karya Ilmiah yang akan datang.

Surakarta,14 Januari 2010

Penulis

DAFTAR ISI

Kata pengantar                                                                                                1

Daftar isi                                                                                                         2

Bab I Pendahuluan

  1. Latar belakang                                                                                                3
  2. Perumusan Masalah                                                                            6
  3. Strategi Pemecahan Masalah                                                              6

Bab II Gambaran Singkat Keadaan Sekolah                                                  8

Bab III Landasan Teoritik                                                                              12

Bab IV Rancangan Strategik Pengembangan Sekolah                                   18

Bab V Penutup                                                                                               25

Daftar Pustaka                                                                                                            26

BAB I

PENDAHULUAN

1) LATAR BELAKANG

  1. a. Desentralisasi Pendidikan (tentang otonomi sekolah)

Laporan Bank Dunia mengenai analisis hasil studi dan dokumen tentang  pendidikan di Indonesia menjadi sebuah acuan dalam memberikan rekomendasi pendidikan dimasa yang akan datang terutama pada pasca krisis. Hasil analisis yang dimaksud adalah laporan yang diberi judul “Eucation In Indonesia: From Criss to Recovery”(September,1998). Laporan ini ditujukan untuk membantu memecahkan masalah yang terjadi di Indonesia teutama pendidikan tingkat dasar dan menengah. Pada umumnya, analisis dititik beratkan  pada hambatan-hambatan dan  strategi pemecahanya.1 Hasil analisis ini berguna bagi pemerintah dalam menyusun strategi desentralisasi pendidikan di Indonesia yang sampai saat ini belum tuntas.

  1. b. Manajemen Pendidikan Berbasis Sekolah

Pemerintah melalui direktorat jenderal manajemen pendidikan dasar dan menengah telah menetapkan tiga rencana strategis dalam jangka menengah, dan salah satunya adalah upaya peningkatan mutu, efisiensi, relevansi dan peningkatan daya saing.2 Dalam upaya tersebut berarti dari pihak pemerintah sendiri telah memberikan otonomi sekolah guna meningkatkan mutu pendidikan  di Indonesia. Namun untuk ukuran Indonesia yang heterogen, maka upaya tersebut diartikan sebagai arah otonomi sekolah di Indonesia dengan berbagai variasinya. Sehingga untuk itu, perlu kiranya sebuah strategi pelaksanaan otonomi dalam pelaksanaan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) ditingkat dasar dan tingkat menegah tiap daerah di Indonesia.

Manajemen berbasis sekolah dipandang sebagai alternatif dari pola umum pengoperasian sekolah yang selama ini memusatkan wewenang di kantor pusat. 3 Dalam pelaksanaan MBS strategi untuk meningkatkan pendidikan yaitu dengan mendelegasikan kewenangan pengambilan keputusan penting dari pusat kearah tingkat sekolah. Dengan demikian, Manajemen berbasis sekolah pada dasarnya merupakan sistem manajemen di mana sekolah merupakan unit pengambilan keputusan penting tentang penyelenggaraan pendidikan secara mandiri. MBS memberikan kesempatan pengendalian lebih besar bagi kepala sekolah, guru, murid, dan orang tua atas proses pendidikan di sekolah mereka guna mengedepankan kerjasama antara berbagai pihak tersebut di atas yang lebih dikenal dengan istilah collaborative school management.

  1. c. Manajemen Peningkatan Mutu Pendidikan Berbasis Sekolah

Sekolah sebagai unit pelaksana pendidikan formal terdepan dengan berbagai keragaman potensi anak didik yang memerlukan layanan pendidikan yang beragam, Kondisi lingkungan yang berbeda satu dengan lainnya, maka sekolah harus dinamis dan kreatif dalam melaksanakan perannya untuk mengupayakan peningkatan kualitas/mutu pendidikan. Hal ini akan dapat dilaksanakan jika sekolah dengan berbagai keragamannya itu, diberikan kepercayaan untuk mengatur dan mengurus dirinya sendiri (otonomi) sesuai dengan kondisi lingkungan dan kebutuhan anak didiknya. Walaupun demikian, agar mutu tetap terjaga dan agar proses peningkatan mutu tetap terkontrol, maka harus ada standar yang diatur dan disepakati secara secara nasional untuk dijadikan indikator evaluasi keberhasilan peningkatan mutu tersebut. Pemikiran ini telah mendorong munculnya pendekatan baru, yakni pengelolaan peningkatan mutu pendidikan di masa mendatang harus berbasis sekolah sebagai institusi paling depan dalam kegiatan pendidikan. Pendekatan ini, kemudian dikenal dengan Manajemen Peningkatan Mutu Pendidikan Berbasis Sekolah (MPMBS).4 Dalam MPMBS mengandung konsep yang menawarkan kerjasama yang erat antara sekolah, masyarakat dan pemerintah dengan tanggung jawabnya masing – masing ini, berkembang didasarkan kepada suatu keinginan pemberian kemandirian kepada sekolah untuk ikut terlibat secara aktif dan dinamis dalam rangka proses peningkatan kualitas pendidikan melalui pengelolaan sumber daya sekolah yang ada. Permasalahanya, model MPMBS seperti apa yang cocok ternyata setiap sekolah di daerah berbeda-beda. Model MPMBS di SMK Pancasila 3 Baturetno tentu berbeda dengan di sekolah menegah lain. Faktor yang mempengaruhi yaitu pemilihan kepala sekolah dan guru, bentuk partisipasi masyarakat, lokasi/kemampuan daerah dan orangtua, kemampuan menghimpun dana, dan indeks kelulusan siswa.5 Tipe MPMBS penuh adalah Tipe model sekolah yang bagus yang mampu memenuhi semua kriteria faktor diatas dengan predikat tinggi. Maka dari itu perlu kiranya setrategi efektif pencapaian  Manajemen Peningkatan Mutu Pendidikan Berbasis Sekolah secara penuh.

  1. d. Sekolah Bertaraf Internasional

Pelaksanaan MPBS sebagai upaya peningkatan mutu, efisiensi, relevansi dan peningkatan daya saing hanya secara nasional belumlah cukup. Karena apabila melihat Abad-21 merupakan abad globalisasi dimana ilmu pengetahuan menjadi berkembang sangat pesat dan berefek pada majunya teknologi dan cepatnya informasi dan komunikasi secara mendunia.6 Akibatnya sekolah akan ketinggalan mutunya dimata internasional dibanding negara lain karena hanya berpatokan pada peningkatan mutu berstandar nasional. Oleh karena itu, perlunya adanya penyelenggaraan pendidikan  dengan manajemen peningkatan mutu pendidikan berbasis sekolah (MPMBS) bertaraf internasional baik untuk sekolah negeri maupun swasta.

Penyelenggaraan pendidikan yang bertaraf internasional pada jenjang pendidikan dasar dan menegah yang selanjutnya diistilahkan dengan SBI dilatarbelakangi oleh beberapa alasan. Pertama, Era globalisasi menuntut kemampuan daya saing yang kuat dalam teknologi, manajemen dan sumber daya manusia.7 Keunggulan teknologi akan menurunkan biaya produksi, keragaman produk dan mutu produk. Keunggulan manajemen akan menentukan bagus tidaknya prestai sekolah. Dan keunggulan sumber daya manusia yang memiliki daya saing tinggi pada tingkat internasional akan menjadi nilai tawar yang lebih dalam era global seperti saat ini. Kedua, ternyata pemerintah sendiri telah memberikan landasan yang kuat yaitu:

  1. UU No.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 50 ayat 3, yang menyatakan bahwa “Pemerintah dan/ pemerintah daerah menyelenggarakan sekurang-kurangnya satu satuan pendidikan pada semua jenjang pendididikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan bertaraf internasional”. (Depdikbud,2007a)
  2. Peraturan Pemerintah No.19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional pendidikan. (Depdiknas,2005a)
  3. UU No.17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2005-2025, meningkatkan kualitas dan akses masyarakat terhadap pelayanan pendidikan.

2) PERUMUSAN MASALAH

  1. Bagaimana model Manajemen Pendidikan Berbasis Sekolah yang cocok untuk  SMK Pancasila 3 Baturetno.
  2. bagaimana setrategi pencapaian Pendidikan Berbasis Sekolah yang cocok untuk  SMK Pancasila 3 Baturetno?
  3. Bagaimanakah konsep tentang Sekolah Manajemen Pendidikan Berbasis Sekolah Bertaraf Internasional untuk SMK Pancasila 3 Baturetno dimasa depan?

3) STRATEGI PEMECAHAN MASALAH

Sekolah adalah sebuah lembaga pendidikan yang secara potensial memiliki peranan paling strategis bagi pembinaan generasi muda untuk dapat berpartisipasi dalam pembangunan Negara yang sedang berkembang.8 yang dimaksud arti potensial mengandung makna bahwa sekolah tidak dengan sendirinnya memiliki kemampuan, melainkan Sekolah perlu dibina dan direncanakan secara sistemik dan sistematik untuk dapat melaksanakan perananya secara maksimal. Karena itu untuk rekonstruksi sebuah lembaga pendidikan tingkat menegah perlu beberapa rancangan strategi pemecahan masalah sebagai berikut:

1) Model Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis sekolah dan pengembanganya

MPMBS merupakan bentuk alternatif sekolah sebagai hasil desentralisasi dalam bidang pendidikan.  Asumsi dasar dalam MPMBS, delegasi tanggung jawaban dan wewenang akan berbeda sekolah satu dengan yang lainya. MPMBS menawarkan kebebasan yang besar kepada sekolah, namun tetap disertai sepenuh tanggung jawab yang harus dipikul oleh sekolah. Tanggung jawab tersebut adalah terjaminya partisipasi masyarakat, pemerataan, efektivitas, serta manajemen yang tertumpu pada sekolah.  Oleh karena itu tidak dapat dihindarkan perlunya adanya perangkat peraturan yang memberikan peran pemerintah dan daerah pada model ini.

Ada  5 faktor yang menjadi acuan untuk mengetahui sebuah sekolah masuk dalam kategori menerapkan MPBS penuh, sedang atau minimal. Selanjutnya akan diteliti termasuk kategori yang mana SMK Pancasila 3 Baturetno dalam penerapan MPMBS. Apabila belum memenuhi kriteria penuh maka akan diupayakan langkah-langkah kearah pencapaianya.

2) konsep tentang Sekolah MPMBS Bertaraf Internasional untuk SMK Pancasila 3 Baturetno dimasa depan

setelah tercapai MPMBS penuh maka tingkat kemandirian sekolah adalah sangat tinggi. Sehingga peluang untuk masuk menjadi sekolah bertaraf Internasional semakin besar dapat tercapai. Maka sebelum jauh membentuk SBI perlu memahami konsep sekolah bertaraf internasional dan tahapan-tahapanya agar sampai kesana.

3) pelaksanaan Manajemen Pendidikan Berbasis Sekolah Bertaraf Internasioal

Penerapan Manajemen Pendidikan berbasis sekolah pada lembaga pendidikan merupakan strategi untuk meningkatkan pendidikan dengan mendelegasikan kewenangan pengambilan keputusan penting dari pusat ke arah tingkat sekolah. Dalam pelaksanaanya maka sekolah ini memiliki karakteristik esensial SBI yakni memenuhi Indikator Kinerja Kunci Minimal (IKKMK) dan Indikator Kinerja Kunci tambahan (IKKT) dan memperhatikan intake dan out put siswa.9

BAB II

GAMBARAN SINGKAT KEADAAN SEKOLAH

SMK PANCASILA 3 BATURETNO

SMK Pancasila 3 Baturetno merupakan salah satu SMK yang berada di Kabupaten Wonogiri. Letaknya cukup strategis dan akses menuju lokasi sekolah ini mudah kerena terletak di pinggir jalan raya Solo-Pacitan, berhubung dekat pula dengan terminal dan pasar. Adapun Visi dan Misi SMK Pancasila 3 Baturetno:

  • Visi

Melatih calon tenaga kerja terampil agar memiliki daya saing dalam bursa tenaga kerja yang berkepribadian luhur dan berkeahlian profesi.

  • Misi
  1. Beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
  2. Memiliki kemampuan dan sikap kerja sesuai kondisi yang dipersyaratkan dunia kerja.
  3. Memiliki kemampuan dalam cipta, rasa, dan karsa.
  4. Memiliki kemampuan kualitas diri secara berkelanjutan.
  • Tujuan
  1. 1. Tujuan Jangka Pendek Sekolah

ü         Bidang Sekolah

  • Meningkatkan angka kelulusan siswa dan Nilai Ujian Nasional dari tahun yang lalu
  • Meningkatkan kualitas guru dan staff sekolah
  • Meningkatkan Mutu sekolah
  • Memberdayakan OSIS
  • Mengefektifkan kegiatan ektrakurikuler
  • Meningkatkan kemandirian dan kepemimpinan siswa

ü      Bidang Prasarana dan sarana

  • Pengadaan dan pemeliharaan sarana dan prasarana sekolah
  • Pembangunan ruang Laboratorium
  • Pengadaan Buku untuk menunjang pelajaraan
  1. 2. Tujuan Jangka Panjang Sekolah
  • Pembangunan gedung baru sekolah.
  • Menjaring mitra kerja dengan perusahaan ternama..
  • Peningkatan kualitas/mutu lulusan.

SMK yang dipimpin oleh Drs. Wakino ini dikelola oleh Yayasan Pancasila cabang Wonogiri. Walaupun demikian, sekolah SMK Pancasila 3 masih mendapat bantuan dari pemerintah yaitu berupa Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan bantuan lain yang berupa alat-alat penunjang praktikum. Sedangkan untuk uang gedung, uang praktek dan uang BP3 masih bersumber dari orang tua/wali murid yang nominal dan mekanismenya diatur oleh komite.

Seperti halnya sekolah pada umumnya, untuk menunjang proses belajar mengajar, sekolah ini sudah dilengkapi dengan laboratorium pemesinan, laboratorium otomotif, laboratorium komputer dan perpustakaan yang sudah memiliki koleksi buku yang cukup lengkap dengan dijaga oleh pustakawan yang direkrut secara terorganisir dengan sistematika yang telah ditetapkan oleh sekolah.

Kurikulum yang berlaku di sekolah ini adalah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang notabenenya berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya. Salah satu acuan dari kurikulum ini adalah harus memuat kecakapan hidup untuk membekali peserta didik memasuki dunia kerja sesuai dengan tingkat perkembangan peserta didik dan kebutuhan dunia kerja.

Demi memantau dan mengendalikan perkembangan siswa SMK, dibentuk suatu Layanan Bimbingan Konseling yang pada umumnya sudah berfungsi dengan baik. Hal ini ditandai dengan dilakukannya bimbingan bagi siswa yang bermasalah seperti terlambat, membolos dan merokok di sekolah. Selain itu BK menerima keluhan-keluhan yang dialami oleh siswa termasuk juga menuntun dan memberi pencerahan dalam penentuan masa depan siswa sesuai bakat dan minat mereka.

Untuk menyalurkan bakat dan minat siswa di bidang non akademik, diadakan kegiatan ekstra kurikuler yang dapat dipilih secara bebas dan diikuti oleh seluruh siswa SMK Pancasila 3 Baturetno. Ekstra kurikuler di bidang olah raga antara lain voli, basket, karate dan sepak takraw. Sedangkan yang mengarahkan kedisiplinan siswa diantaranya pramuka, PMR, PKS (Patroli Keamanan Sekolah).

Demi tercipta dan terjaganya kondisi sekolah yang lebih baik, maka pengembangan yang dilakukan tidak hanya terpusat pada siswa dan fasilitas yang ada, tetapi juga dilakukan pengembangan profesi yang arahnya untuk meningkatkan mutu dan kinerja tenaga pengajar di sekolah tersebut, salah satunya adalah pelaksanaan training bagi staff pengajar. Akan tetapi dalam pembinaan terhadap guru di SMK Pancasila 3 masih sangat bersifat insidental yaitu pembinaan hanya dilakukan jika ada keperluan. Kepala sekolah mengontrol berlangsungnya proses belajar mengajar dengan mengawasi kinerja guru dalam proses pembelajaran dan memberi peringatan terhadap guru-guru yang tidak disiplin.

Semua kegiatan yang diadakan oleh pihak sekolah juga bertujuan untuk menjaga hubungan baik seluruh anggota keluarga SMK Pancasila 3. Di samping itu nampak jelas bahwa sekolah juga menjaga hubungan baik dengan masyarakat dan orang tua wali, mengingat bahwa merekalah yang berperan sebagai kontrol sosial terhadap maju mundurnya sekolah. Dengan adanya rapat BP3, sosialisasi Ujian Nasional dan pengambilan raport dapat meningkatkan hubungan antara sekolah dengan masyarakat khususnya dengan orang tua siswa/orang tua wali.

Seiring perkembangan jaman, pihak sekolah selalu mengupayakan pelayanan yang terbaik untuk siswa dan guru. Salah satunya pemberian fasilitas berupa akses internet yang dapat dimanfaaatkan secara gratis oleh siswa maupun guru. Sekolah ini juga sudah memanfaatkan kemajuan bidang IPTEK dengan adanya pendaftaran online sehingga mempermudah mekanisme pendaftaran.

SMK Pancasila 3 telah menerapkan MPMBS dengan penerapan Paradigma Baru yang diindikasikan dengan pengambilan keputusan bersama (musyawarah untuk mufakat), sekolah ini sudah menerapakan suatu system otonomi sekolah dimana sekolah dapat merumuskan sendiri program apa saja yang akan dilakukan sesuai dengan rambu-rambu yang telah ditentukan oleh pusat. Ruang gerak yang fleksibel baik staf maupun guru pengajar, bersifat professional dalam segala hal, kepala sekolah memotivasi dan menfasilitasi guru dan siswa untuk menigkatkan mutu sekolah, dalam mengestimasi dana dilakukan secara efisien, selalu menjaga kerjasama dan sikap terbuka terhadap masyarakat, dan  pemberdayaan di setiap kegiatan yang dilaksanakan.

BAB III

LANDASAN TEORITIK

Upaya pemerintah untuk berkomitmen dalam memajukan pendidikan bangsa ini telah terasa dengan turunya peraturan-peraturan yang memberi kebebasan bertanggung jawab secara luas bagi sekolah untuk mandiri dalam meningkatkan patensinya menjadi sekolah ungggulan. Itu artinya sistem sentral yang dikontrol ketat oleh pemerintah kini telah tergantikan dengan sistem yang terdesentralisasi. Namun, untuk ukuran Indonesia yang sangat heterogen maka dalam proses peningkatan mutu pendidikan perlu dicari alternatif pengelolaan sekolah. Hal ini mendorong lahirnya konsep manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah. Manajemen alternatif ini memberikan kemandirian kepada sekolah untuk mengatur dirinya sendiri dalam rangka peningkatan mutu pendidikan, tetapi masih tetap mengacu kepada kebijakan nasional. Konsekwensi dari pelaksanaan program ini adanya komitmen yang tinggi dari berbagai pihak yaitu orang tua/masyarakat, guru, kepala sekolah, siswa dan staf lainnya di satu sisi dan pemerintah di sisi lainnya sebagai partner dalam mencapai tujuan peningkatan mutu.

Dalam teori effective school (Edmond, 1979), Manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah merupakan alternatif baru dalam pengelolaan pendidikan yang lebih menekankan kepada kemandirian dan kreatifitas sekolah. Maka ada 8 indikator yang menunjukkan karakter dari konsep manajemen ini antara lain sebagai berikut;

1)                Lingkungan sekolah yang aman dan tertib

2)                Sekolah memilki misi dan target mutu yang ingin dicapai, Sekolah memiliki kepemimpinan yang kuat

3)                Adanya harapan yang tinggi dari personel sekolah (kepala sekolah, guru, dan staf lainnya termasuk siswa) untuk berprestasi,

4)                Adanya pengembangan staf sekolah yang terus menerus sesuai tuntutan IPTEK,

5)                Adanya pelaksanaan evaluasi yang terus menerus terhadap berbagai aspek akademik dan administratif, dan pemanfaatan hasilnya untuk penyempurnaan/perbaikan mutu, dan

6)                Adanya komunikasi dan dukungan intensif dari orang tua murid/masyarakat.

Pengembangan konsep manajemen ini didesain untuk meningkatkan kemampuan sekolah dan masyarakat dalam mengelola perubahan pendidikan kaitannya dengan tujuan keseluruhan, kebijakan, strategi perencanaan, inisiatif kurikulum yang telah ditentukan oleh pemerintah dan otoritas pendidikan. Pendidikan ini menuntut adanya perubahan sikap dan tingkah laku seluruh komponen sekolah; kepala sekolah, guru dan tenaga/staf administrasi termasuk orang tua dan masyarakat dalam memandang, memahami, membantu sekaligus sebagai pemantau yang melaksanakan monitoring dan evaluasi dalam pengelolaan sekolah yang bersangkutan dengan didukung oleh pengelolaan sistem informasi yang presentatif dan valid. Akhir dari semua itu ditujukan kepada keberhasilan sekolah untuk menyiapkan pendidikan yang berkualitas/bermutu bagi masyarakat.

Konsep manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah ini membawa isu desentralisasi dalam manajemen (pengelolaan) pendidikan dimana birokrasi pusat bukan lagi sebagai penentu semua kebijakan makro maupun mikro, tetapi hanya berperan sebagai penentu kebijakan makro, prioritas pembangunan, dan standar secara keseluruhan melalui sistem monitoring dan pengendalian mutu Adapun implikasi dalam manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah dalam manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah (Drs. Umaedi, M.Ed,1999) antara lain sebagai berikut:

  • Kurikulum

Sekolah bertanggung jawab untuk mengembangkan kurikulum baik dari standar materi (content) dan proses penyampaiannya. Melalui penjelasan bahwa materi tersebut ada mafaat dan relevansinya terhadap siswa, sekolah harus menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan melibatkan semua indera dan lapisan otak serta menciptakan tantangan agar siswa tumbuh dan berkembang secara intelektual dengan menguasai ilmu pengetahuan, terampil, memilliki sikap arif dan bijaksana, karakter dan memiliki kematangan emosional.

Untuk melihat progres pencapain kurikulum, siswa harus dinilai melalui proses test yang dibuat sesuai dengan standar nasional dan mencakup berbagai aspek kognitif, affektif dan psikomotor maupun aspek psikologi lainnya. Proses ini akan memberikan masukan ulang secara obyektif kepada orang tua mengenai anak mereka (siswa) dan kepada sekolah yang bersangkutan maupun sekolah lainnya mengenai performan sekolah sehubungan dengan proses peningkatan mutu pendidikan.

  • Personil sekolah

Sekolah bertanggung jawab dan terlibat dalam proses rekrutmen (dalam arti penentuan jenis guru yang diperlukan) dan pembinaan struktural staf sekolah (kepala sekolah, wakil kepala sekolah, guru dan staf lainnya). Sementara itu pembinaan profesional dalam rangka pembangunan kapasitas/kemampuan kepala sekolah dan pembinaan keterampilan guru dalam pengimplementasian kurikulum termasuk staf kependidikan lainnya dilakukan secara terus menerus atas inisiatif sekolah. Untuk itu birokrasi di luar sekolah berperan untuk menyediakan wadah dan instrumen pendukung. Dalam konteks ini pengembangan profesioanl harus menunjang peningkatan mutu dan pengharhaan terhadap prestasi perlu dikembangkan. Manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah memberikan kewenangan kepada sekolah untuk mengkontrol sumber daya manusia, fleksibilitas dalam merespon kebutuhan masyarakat, misalnya pengangkatan tenaga honorer untuk keterampilan yang khas, atau muatan lokal. Demikian pula mengirim guru untuk berlatih di institusi yang dianggap tepat.

  • Masyarakat

Kondisi masyarakat yang kian maju telah membawa kepada suatu kesadaran bahwa hanya sekolah yang sekolah yang dikelola secara efektiflah (dengan manajemen yang berbasis sekolah) yang akan mampu merespon aspirasi masyarakat secara tepat dan cepat dalam hal mutu pendidikan.

Institusi pusat memiliki peran yang penting, tetapi harus mulai dibatasi dalam hal yang berhubungan dengan membangun suatu visi dari sistem pendidikan secara keseluruhan, harapan dan standar bagi siswa untuk belajar dan menyediakan dukungan komponen pendidikan yang relatif baku atau standar minimal. Konsep ini menempatkan pemerintah dan otorits pendiidikan lainnya memiliki tanggung jawab untuk menentukan kunci dasar tujuan dan kebijakan pendidikan dan memberdayakan secara bersama-sama sekolah dan masyarakat untuk bekerja di dalam kerangka acuan tujuan dan kebijakan pendidikan yang telah dirumuskan secara nasional dalam rangka menyajikan sebuah proses pengelolaan pendidikan yang secara spesifik sesuai untuk setiap komunitas masyarakat.

  • Orang tua wali

Pertanggung-jawaban (accountability); sekolah dituntut untuk memilki akuntabilitas baik kepada masyarakat maupun pemerintah. Hal ini merupakan perpaduan antara komitment terhadap standar keberhasilan dan harapan/tuntutan orang tua. Pertanggung-jawaban (accountability) ini bertujuan untuk meyakinkan bahwa dana masyarakat dipergunakan sesuai dengan kebijakan yang telah ditentukan dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan dan jika mungkin untuk menyajikan informasi mengenai apa yang sudah dikerjakan. Untuk itu setiap sekolah harus memberikan laporan pertanggung-jawaban dan mengkomunikasikannya kepada orang tua dan pemerintah, dan melaksanakan kaji ulang secara komprehensif terhadap pelaksanaan program prioritas sekolah dalam proses peningkatan mutu

  • Sekolah

Sumber daya sekolah harus mempunyai fleksibilitas dalam mengatur semua sumber daya sesuai dengan kebutuhan setempat. Selain pembiayaan operasional/administrasi, pengelolaan keuangan harus ditujukan untuk: memperkuat sekolah dalam menentukan dan mengalolasikan dana sesuai dengan skala prioritas yang telah ditetapkan untuk proses peningkatan mutu, pemisahan antara biaya yang bersifat akademis dari proses pengadaannya, dan pengurangan kebutuhan birokrasi pusat.

  • Pendanaan

pendanaan walaupun dianggap penting dalam perspektif proses perencanaan dimana tujuan ditentukan, kebutuhan diindentifikasikan, kebijakan diformulasikan dan prioritas ditentukan, serta sumber daya dialokasikan, tetapi fokus perubahan kepada bentuk pengelolaan yang mengekspresikan diri secara benar kepada tujuan akhir yaitu mutu pendidikan dimana berbagai kebutuhan siswa untuk belajar terpenuhi. Untuk itu dengan memperhatikan kondisi geografik dan sosiekonomik masyarakat, maka sumber dana dialokasikan dan didistribusikan kepada sekolah dan pemanfaatannya dipercayakan kepada sekolah sesuai dengan perencanaan dan prioritas yang telah ditentukan oleh sekolah tersebut dan dengan dukungan masyarakat. Pedoman pelaksanaan peningkatan mutu hanya bersifat umum yang memberikan rambu-rambu mengenai apa-apa yang boleh/tidak boleh dilakukan.

  • Sekolah Bertaraf Internasional

Era globalisasi menuntut kemampuan daya saing yang kuat dalam bidang teknologi, manajemen dan sumber daya manusia menuntut pendidikan yang mampu menjawab tantangan global ini. Apalagi sekarang telah dibuka perdagangan bebas ASEAN dengan china yang dimulai sejak januari 2010. Gagasan Sekolah bertaraf internasional merupakan alternative untuk menjawab tantangan global tersebut. Diharapkan dengan dikembangkanya SBI maka kualitas pendidikan bermutu tinggi dan akhirnya output lulusan pun memiliki kualitas sumber daya yang mumpuni yng mampu bersaing secara nasional maupun internasional.

BAB IV

RANCANGAN STRATEGIS PENGEMBANGAN SEKOLAH

SMK PANCASILA 3 BATURETNO

  1. A. RENCANA STRATEGIK
    1. 1. Pengumulan data dan informasi

Tahap pengumpulan data sekolah SMK Pancasila 3 telah dilakukan. Data diperolah dari hasil wawancara dengan pihak sekolah. Hasil wawancara kemudian data dibuat makalah yang selanjutnya disertakan dalam karya ilmiah ini gambaran singkatnya dalam bab II. Sehingga data dalam karya ilmiah yang akan dianalisis dalam bab II merupakan tahap awal bagi keperluan analisis SWOT guna pengambilan keputusan.

  1. 2. Analisis  SWOT  Sekolah
  2. a. Kekuatan (strength)

¥     SMK Pancasila 3 Baturetno merupakan salah satu SMK yang berada di Kabupaten Wonogiri. letaknya cukup strategis dan akses menuju lokasi sekolah ini mudah kerena terletak di pinggir jalan raya Solo-Pacitan, berhubung dekat pula dengan terminal dan pasar.

¥     Kurikulum yang berlaku di sekolah ini adalah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang notabenenya berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya didukung akses Teknologi yang cukup memadai.

¥     Pemilihan kepala sekolah dan guru yang profesional,dan partisipasi masyarakat yang tinggi didukung otonomi daerah yang teresentralisasi pada sekolah.

  1. b. Kelemahan (weakness)
  • Pembinaan terhadap guru di SMK Pancasila 3 masih sangat bersifat incidental
  • Mutu intake dan lulusan yang cukup.
  • Guru yang belum memenuhi standar sertifikasi/professional.
  1. c. Kesempatan (Opportunity)
  • Support pemerintah bagus, baik dari hak otonomi sekolah maupun dukungan dana serta partisipasi masyarakat tinggi
    • .kesempatan kearah sekolah Rintisan SBI dan SBI mandiri terbuka bila ingin menang dalam persaingan dunua kerja.
    • Kemampuan mengandeng mitra perusahaan untuk pelatihan dan tujuan kerja lulusanya.
  1. d. Tantangan (treatness)

v  Era globalisasi menuntut SDM yang mumpuni dalam bursa dunia kerja.

v  Perdagangan bebas ASEAN-CHINA telah dimulai sejak januari 2010 menuntut kreatifitas dan daya saing yang tinggi.

  1. 3. Pengambilan keputusan

Dengan mengacu pada hasil analisis SWOT maka sekolah ternyata telah menerapkan MPBS dan sumber daya yang ada serta daya dukung pihak sekolah dan pemerintah maka SMK Pancasila 3 Baturetno untuk mencoba menerapkan,

Pertama MPBS penuh, merupakan tahap pertama agar sekolah Mandiri dan kreatif dan professional. Ini merupakan landasan pertama sebalum menuju RSBI 5-7 tahun yang kemudian menjadi Sekolah Bertaraf Internasional  SBI dimasa yang akan datang.

Kedua, Merekontruksi SMK Pancasila 3 Baturetno Menjadi Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) yang mandiri setelah melalui sebuah Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) .

  1. B. PENGEMBANGAN SEKOLAH
  2. 1. Model MPBS SMK Pancasila 3 Baturetno

Berdasar Kondisi sekolah yang ada di Indonesia, dimana ada sekolah yang maju, sedang dan kurang. Pada saat ini terdapat minimal 3 tingkatan, yaitu

ü      sekolah yang melaksanakan MPBS secara Penuh.

ü      sekolah yang melaksanakan MPBS tingkat sedang

ü      sekolah yang melaksanakan MPBS secara minimal

kriteria dari masing-masing tingkatan ditentukan oleh sejumlah indikatorseperti tabel berikut.10

Tipe sekolah Syarat 1.

Pemilihan personil sekolah

Syarat2

Partisipasi masyarakat

Syarat 3

kemampuan daerah

Syarat4

Kemampuan menghimpun dana

Predikat kelulusan
Penuh Dipilih karena memiliki ketrampilan Partisipasi masyarakat Besar&dgn dukungan dana Pendapatan daerah tinggi Tergantung masyarakat tinggi
sedang Dipilih karena memiliki ketrampilan Partisipasi masyarakat Besar&dgn dukungan dana Pendapatan daerah tinggi Tergantung pemerintah sedang
minimal Dipilih karena memiliki ketrampilan Partisipasi masyarakat kurang Pendapatan daerah tinggi Sangat tergantung pad pemerintah rendah

tipe pertama merupakan sekolah yang mampu memenuhi semua persyaratan. Tipe kedua merupakan sekolah yang memenuhi sebagian persyaratan dan tipe ketiga merupakan sekolah yang hanya memenuhi beberapa persyaratan atau persyaratan minimal yang ditentukan.

Bila mengacu patokan diatas maka kita melihat SMK Pancasila 3 Baturetno maka semua persyaratan terpenuhi namun masiah ada bantuan dana dari pemerintah yakni BOS, sehingga SMK Pancasila 3 Baturetno masih menerapkan MPBS tingkat sedang. Untuk itu perlu kiranya strategi pncapaian MPBS penuh agar 5-7 tahun mendatang menjadi SMK yang inovatif dan mandiri.

  1. 2. Strategi Pencapaian MPBS penuh di SMK Pancasila 3 Baturetno

Terdapat unsur-unsur pokok yang merupakan persyaratan minimalis bagi MPBS. Unsur tersebut antara lain partisipasi masyarakat, ketenagaan,keuangan, kurikulium dan sarana serta prasarana. Yang menjadi pertanyaan bagaimanakah pelaksanaanya. Dengan mempertimbangkan kondisi di SMK Pancasila 3 Baturetno maka perlu disiusun tahap pelaksanaan MPBS berupa prioritas jangka pendek, menengah dan panjang.

a) Strategi jangka pendek

  • Maksimalkan fungsi BP3 untuk memaksimalkan peran masyarakat..
  • .kepala sekolah dilatih dalam MPBS.
  • Perekrutan guru professional
  • Intake siswa yang masuk sekolah dipilih. .

b) Strategi jangka menegah

  • Sosialisasi prinsip-prinsip MPBS melalui media massa dan forum lainya.
  • Mengisi kurikulum local
  • Memaksimalkan keleluasaan dalam memanajemen sekolah.
  • Sisa didorong untuk belajar aktif.

c) Strategi jangka panjang

  • Maksimalisasi dewan komite sekolah.
  • Mengelola dengan otonomi yang besar berpegang pada undang-undang.
  • Membentuk dewan sekolah oleh guru.
  • Ada perwakilan siswa dalam sekolah
  • Adanya pengawas yang dipilih kepala sekolah.
  1. 3. konsep tentang Sekolah MPBS Bertaraf Internasional untuk SMK  Pancasila 3 Baturetno dimasa depan
    1. a. konsep sekolah

pedoman penjaminan mutu sekolah/madrasah bertaraf internasional pada jenjang pendidikan dan menegah tahun 2007, sekolah minimal mengacu 2 syarat:11

  1. memenuhi standar Nasional Pendidikan meliputi, standart isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan kependidikan, standar sarana dan prasrana, standar manajemen, standar pembiayaan dan standar penilaian.
  2. mengacu pada standar pendidikan salah satu anggota negara Organization for Ekonomic Co-operation and Development (OECD)(Australia, Canada, German, Greech, Inggris, China, AS dsb, Lihat jurnal pendiidkana dan kebudayaan, SBI, oktober2007)

Penerapan MPBS bertaraf Internasional pada SMK Pancasila 3 Baturetno merupakan strategi untuk meningkatkan pendidikan dengan mendelegasikan kewenangan pengambilan keputusan penting dari pusat ke arah tingkat sekolah. Maka langkah awal adalah memahami 2 konsep diatas. Kemudian mencoba untuk membuat rintisan SBI terlebih dulu sebelum menjadi fase SBI mandiri. Dalam tahap rintisan ini bentuk pembinaan yang perlu dilakukan adalah sosialisasi SBI,peningkatkan kemampuan SDM sekolah, peningkatan manajemen dan sarana prasaran.

Dalam pelaksanaanya maka sekolah harus memiliki karakteristik esensial SBI yakni memenuhi Indikator Kinerja Kunci Minimal (IKKMK) sebagai syarat minimal untuk memenuhi standar nasional(ada 8 standar minimal NSP). Dan Indikator Kinerja Kunci tambahan (IKKT) dan memperhatikan intake dan out put siswa dimana ini akan menjadi ciri/karakter Sekolah SBI (ciri keinternasionalan) yang akan membedakan dangan sekolah lainya.

Untuk menerapkan karakteristik SBI pada pada SMK Pancasila 3 Baturetno maka minimal 2 cara yang perlu ditempuh(kir haryana,2007):

  1. 1. Adaptasi

Yakni penyesuaian unsur-unsur dalam SNP dengan mengacu pada standar salah satu anggota Negara OECD yang mempunyai keunggulantertentu dalam bidang pendidikan dan reputasi internasional serta diakui secara nasional.

  1. 2. Adopsi

Yakni penambahan/pengayaan/pendalamanunsur-unsur yang ada dalam SNP dengan tetap mengacu pada standar salah satu anggota  OECD.

BAB V

PENUTUP

Dalam rangka pelaksanaan konsep Manajemen Peningkatan Mutu Pendidikan Berbasis Sekolah bertaraf internasional maka penulis sadar dibutuhkan upaya dan dana yang besar, sehingga mengharap untuk menjadi masukan bagi sekolah tersebut dan pemerintah dan maasyarakat dalam upaya merealisasikan sekolah bertaraf internasional.

Harapanya dengan rekontruksi ini diharapkan pada SMK Pancasila 3 Baturetno semakin meningkat mutu sekolah dan kualitas pendidikanya, menjadi sekolah mandiri bertaraf ninternasional yang mamapu mencetak SDM yang unggul yang memiliki daya saing yang tinggi dalan skala nasional dan internasional.

DAFTAR PUSTAKA

Depdiknas. Jurnal: Pedoman Penyelenggaraan SBI Pada Jenjang Pendidikan Dasar Dan Menengah(2006)

Depdiknas. Pedoman penjaminan mutu sekolah/madrasah bertaraf internasional pada jenjang pendidikan tingkat dasar dan menegah(2007)

Departemen Pendidikan Nasional, Tahun 2005 tentang  Rencana Strategis Departemen Pendidian Nasional Tahun 2005-2009” .

Dikmenum, 1999, Peningkatan Mutu Pendidikan Berbasis Sekolah: Suatu Konsepsi Otonomi Sekolah (paper kerja), Depdikbud, Jakarta.

Jalal, Fasli. 2001. Reformasi pendidikan dalam konteks otonomi daerah. Yogyakarta. Adicita

Jurnal: Suparno,Paul.  Reformasi Pendidiakan.

Kir Haryana. Jurnal: Sekolah Bertaraf Internasional:Depdikbud, 2007.

Newsweek,special Edition. The Knowledge Revolution (Dec 2005-Feb2006)

Semiawan, Conny R., dan Soedijarto, 1991, Mencari Strategi Pengembangan Pendidikan Nasional Menjelang Abad XXI, PT. Grasindo, Jakarta.

Slamet, P.H.(2000). Manajemen Berbasis Sekolah. http://www.depdiknas.go.id/Jurnal/27/manajemen_berbasis_sekolah.htm

http://makalahdanskripsi.blogspot.com/2009/03/manajemen-berbasis-sekolah.html

http://makalahkumakalahmu.wordpress.com/2008/10/18/manajemen-berbasis-sekolah/

DAFTAR CATATAN KAKI

  1. lebih lengkap lihat dalam buku Reformasi Pendidikan Dalam Konteks Otonomi Daerah, tahun 2001, hal.152-160.
  2. Departemen Pendidikan Nasional, Tahun 2005 tentang  Rencana Strategis Departemen Pendidian Nasional Tahun 2005-2009” .
  3. Ranu Sudarmono. MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH(2007)
  4. Drs. Umaedi, M.Ed. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah- Sebuah Pendekatan Baru Dalam Pengelolaan Sekolah Untuk Peningkatan Mutu.(1999)
  5. Dalam buku Reformasi Pendidikan Dalam Konteks Otonomi Daerah hal 161&163 tentang model Manajemen Berbasis sekolah. Ada 3 model disana yt penuh, sedang dan minimal.
  6. Lihat Newsweek,special Edition. The Knowledge Revolution (Dec 2005-Feb2006)
  7. Depdiknas. Jurnal: Pedoman Penyelenggaraan SBI Pada Jenjang Pendidikan Dasar Dan Menengah(2006)
  8. DR.Soedijarto,MA.  Jurnal:Menuju Pendidikan nasinal yang relevan dan bermutu (1993)
  9. Kir Haryana. Sekolah bertaraf Internasional.(2007)
  10. Lihat dalam buku Reformasi Pendidikan Dalam Konteks Otonomi Daerah, tahun 2001, hal. 160.
  11. Depdiknas. Pedoman penjaminan mutu sekolah/madrasah bertaraf internasional pada jenjang pendidikan tingkat dasr dan menegah(2007)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: